Welcome!

I am Fajar Nur Azizi Graphics Designer

View Work Hire Me!

About Me

Web Design
Branding
Development
Who am i

John Doe.

Professional Web Designer

Nulla metus metus ullamcorper vel tincidunt sed euismod nibh Quisque volutpat condimentum velit class aptent taciti sociosqu ad litora.

Nulla metus metus ullamcorper vel tincidunt sed euismod nibh Quisque volutpat condimentum velit class aptent taciti sociosqu ad litora torquent metus metus ullamcorper vel tincidunt sed class aptent taciti sociosqu ad litora .

Services

Web Design

Nulla metus metus ullamcorper vel tincidunt sed euismod nibh Quisque volutpat

Development

Nulla metus metus ullamcorper vel tincidunt sed euismod nibh Quisque volutpat

Branding

Nulla metus metus ullamcorper vel tincidunt sed euismod nibh Quisque volutpat

Marketing

Nulla metus metus ullamcorper vel tincidunt sed euismod nibh Quisque volutpat

Our Blog

Tampilkan postingan dengan label TEKNIK SIPIL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TEKNIK SIPIL. Tampilkan semua postingan

Baja Ringan


Bahan Dasar Baja Ringan

Bahan dasar baja ringan adalah Carbon Steel, Carbon Steel adalah baja yang terdiri dari elemen-elemen yang persentase maksimum selain bajanya adalah sbb :


a. 1,70% Carbon

b. 1,65% Manganese

c. 0,60% Silicon
d. 0,60% Copper


Carbon adalah Unsur kimia dengan nomor atom 6, tingkat oksidasi 4,2

Manganese adalah Unsur kimia dengan nomor atom 25, tingkat oksidasi 7,6423


NB : Carbon dan Manganese adalah bahan pokok untuk meninggikan tegangan (strength)  dari baja murni. Penambahan persentase Carbon akan mempertinggi Yield Stress tetapi mengurangi daktilitas. Baja ringan adalah Baja High Tensile G-550 (Minimum Yeild Strength 5500 kg/m2) dengan standar bahan ASTM A792, JIS G3302, SGC 570.


Untuk melindungi material baja mutu tinggi dari korosi, harus diberikan lapisan pelinung (coating) secara memadai. Berbagai metode untuk memberikan lapisan pelindung guna mencegah korosi pada baja mutu tinggi telah dikembangkan. Jenis coating pada baja ingan yang beredar di pasaran:


Galvanized

Galvalume, atau sering juga di sebut sebagai Zincalume dan ZAM ( Dikembangkan sejak tahun 1985, menggunakan lapisan pelindung yang terdiri dari 96% zinc, 6% alumunium, dan 3% magnesium.)

Sejarah Baja dan Baja Ringan

Sejarah Baja dan Baja Ringan

Baja adalah logam campuran yang tediri dari besi (Fe) dan karbon (C). Jadi baja berbeda dengan besi (Fe), alumunium (Al), seng (Zn), tembagga (Cu), dan titanium (Ti)yang merumakan logam murni. Dalam senyawa antaa besi dan karbon (unsur nonlogam) terrsebut besi menjadi unsur yang lebih dominan dibanding karbon. Kandungan kabon berkisar antara 0,2 – 2,1% dari berat baja, tergantung tingkatannya. Secara sederhana, fungsi karbon adalah meningkatkan kwalitas baja, yaitu daya tariknya (tensile strength) dan tingkat kekerasannya (hardness). Selain karbon, sering juga ditambahkan unsur chrom (Cr), nikel (Ni), vanadium (V), molybdaen (Mo) untuk mendapatkan sifat lain sesuai aplikasi dilapangan seperti antikorosi, tahan panas, dan tahan temperatur tinggi.

Besi ditemukan digunakan pertama kali pada sekitar 1500 SM Tahun 1100 SM, Bangsa hittites yang merahasiakan pembuatan tersebut selama 400 tahun dikuasai oleh bangsa asia barat, pada tahun tersebut proses peleburan besi mulai diketahui secara luas. Tahun 1000 SM, Bangsa Yunani, Mesir, Jews, Roma, Carhaginians dan Asiria juga mempelajari peleburan dan menggunakan besi dalam kehidupannya.Tahun 800 SM, India berhasil membuat besi setelah di invansi oleh bangsa arya. Tahun 700 – 600 SM, Cina belajar membuat besi. Tahun 400 – 500 SM, Baja sudah ditemukan penggunaannya di Eropa. Tahun 250 SM, Bangsa India menemukan cara membuat baja. Tahun 1000 M, Baja dengan campuran unsur lain ditemukan pertama kali pada 1000 M pada kekaisaran fatim yang disebut dengan baja Damaskus. 1300 M, Rahasia pembuatan baja damaskus hilang.1700 M, Baja kembali diteliti penggunaan dan pembuatannya di Eropa.

Penggunaan logam sebagai bahan struktural diawali dengan besi tuang untuk bentang lengkungan (arch) sepanjang 100 ft (30 m) yang dibangun di Inggris pada tahun 1777 – 1779. Dalam kurun waktu 1780 – 1820,. Dibangun lagi sejumlah jembatan dari besi tuang, kebanyakan berbentuk lengkungan dengan balok – balok utama dari potongan – potongan besi tuang indivudual yang membentuk batang – batang atau kerangka (truss) konstruksi. Besi tuang juga digunakan sebagai rantai penghubung pada jembatan – jembatan suspensi sampai sekitar tahun 1840.

Setelah tahun 1840, besi tempa mulai mengganti besi tuang dengan contoh pertamanya yang penting adalah Brittania Bridge diatas selat Menai di Wales yang dibangun pada 1846 – 1850. Jembatan ini menggunakan gelagar –gelagar tubular yang membentang sepanjang 230 – 460 – 460 – 230 ft (70 – 140 – 140 – 70 m) dari pelat dan profil siku besi tempa.

Proses canai (rolling) dari berbagai profil mulai berkembang pada saat besi tuang dan besi tempa telah semakin banyak digunakan. Batang – batang mulai dicanai pada skala industrial sekitar tahun 1780. Perencanaan rel dimulai sekitar 1820 dan diperluas sampai pada bentuk – I menjelang tahun 1870-an.

Perkembangan proses Bessemer (1855) dan pengenalan alur dasar pada konverter Bessemer (1870) serta tungku siemens-martin semakin memperluas penggunaan produk – produk besi sebagai bahan bangunan. Sejak tahun 1890, baja telah mengganti kedudukan besi tempa sebagai bahan bangunan logam yang terutama. Dewasa ini (1990-an), baja telah memiliki tegangan leleh dari24 000 sampai dengan 100 000 pounds per square inch, psi (165 sampai 690 MPa), dan telah tersedia untuk berbagai keperluan struktural.

Besi dan baja mempunyai kandungan unsur utama yang sama yaitu Fe, hanya kadar karbon lah yang membedakan besi dan baja, penggunaan besi dan baja dewasa ini sangat luas mulai dari perlatan yang sepele seperti jarum, peniti sampai dengan alat – alat dan mesin berat.berikut ini disajikan klasifikasi baja :

1.      Menurut komposisi kimianya:

a. Baja karbon (carbon steel), dibagi menjadi tiga yaitu;
  • Baja karbon rendah (low carbon steel) – machine, machinery dan mild steel
-  0,05 % – 0,30% C.
Sifatnya mudah ditempa dan mudah di mesin. Penggunaannya:
-    0,05 % – 0,20 % C : automobile bodies, buildings, pipes, chains, rivets, screws, nails.
-    0,20 % – 0,30 % C : gears, shafts, bolts, forgings, bridges, buildings.
  • Baja karbon menengah (medium carbon steel)
-    Kekuatan lebih tinggi daripada baja karbon rendah.
-    Sifatnya sulit untuk dibengkokkan, dilas, dipotong. Penggunaan:
-    0,30 % – 0,40 % C : connecting rods, crank pins, axles.
-    0,40 % – 0,50 % C : car axles, crankshafts, rails, boilers, auger bits, screwdrivers.
-    0,50 % – 0,60 % C : hammers dan sledges.
  • Baja karbon tinggi (high carbon steel)  – tool steel
-    Sifatnya sulit dibengkokkan, dilas dan dipotong. Kandungan 0,60 % – 1,50 % C
Penggunaan

-    screw drivers, blacksmiths hummers, tables knives, screws, hammers, vise jaws, knives, drills. tools for turning brass and wood, reamers, tools for turning hard metals, saws for cutting steel, wire drawing dies, fine cutters.

b. Baja paduan (alloy steel)

Tujuan dilakukan penambahan unsur yaitu:
  1. Untuk menaikkan sifat mekanik baja (kekerasan, keliatan, kekuatan tarik dan sebagainya)
  2. Untuk menaikkan sifat mekanik pada temperatur rendah
  3. Untuk meningkatkan daya tahan terhadap reaksi kimia (oksidasi dan reduksi)

Untuk membuat sifat-sifat spesial
Baja paduan yang diklasifikasikan menurut kadar karbonnya dibagi menjadi:
  1. Low alloy steel, jika elemen paduannya ≤ 2,5 %
  2. Medium alloy steel, jika elemen paduannya 2,5 – 10 %
  3. High alloy steel, jika elemen paduannya > 10 %

Baja Ringan

Baja ringan adalah baja canai dingin dengan kualitas tinggi yang bersifat ringan dan tipis namun kekuatannya tidak kalah dengan baja konvensional. Baja ringan memiliki tegangan tarik tinggi (G550). Baja G550 berarti baja memiliki kuat tarik 550 MPa (Mega Pascal). Baja ringan adalah Baja High Tensile G-550 (Minimum Yeild Strength 5500 kg/m2) dengan standar bahan ASTM A792, JIS G3302, SGC 570.

Untuk melindungi material baja mutu tinggi dari korosi, harus diberikan lapisan pelindung (coating) secara memadai. Berbagai metode untuk memberikan lapisan pelindung guna mencegah korosi pada baja mutu tinggi telah dikembangkan. Jenis coating pada baja ringan yang beredar dipasaran adalah Galvanized, Galvalume, atau sering juga disebut sebagai zincalume dan sebuah produsen mengeluarkan produk baja ringan dengan menambahkan magnesium yang kemudian dikenal dengan ZAM, dikembangkan sejak 1985, menggunakan lapisan pelindung yang terdiri dari: 96% zinc, 6% aluminium, dan 3% magnesium

Sumber:

  • Ahmad Hasnan S. Mengenal Baja, http://www.scribd.com/doc/3024023/Sejarah-baja diakses [18/01/2011]
  • Imelda Akmal, Baja Ringan, http://books.google.co.id/books diakses [18/01/2011]
  • Muh. Iqbal Haqi., Hardening Pada Baja Karbon Tinggi.  oke.or.id/?file_id=22 diakses [18/01/2011]
  • Yuli, Sejarah Baja, http://chemistry161.blogspot.com/2009/02/sejarah-baja.html diakses [18/01/2011]
  • Rato, Sejarah Struktur Baja, http://rathocivil02.wordpress.com/2008/06/25/sejarah-struktur-baja/ diakses [18/02/2011]
  • Sonicwitcha, Sejarah Baja. http://sonicwitcha.multiply.com/photos/album/7/Sejarah_Baja_ diakses [18/01/2011]

Kekurangan-Kekurangan Pada Metode Pengukuran jarak

Masing-masing metode pengukuran memiliki kekurangan, antara lain yaitu :

a.       Metode langsung :
e Panjang pita ukur yang lebih pendek dari pada jarak yang di ukur.
e Terjadinya kesalahan pengukuran karena pita ukur tidak benar-benar lurus pada garis dan bisa melenceng.
e Bahan dari pita ukur itu sendiri, yang mungkin koefisien muainya sangat tinggi
e Dan masih banyak lagi.

b.      Metode tidak langsung (perbandingan) :
e Ketelitian dari para pengukur, ini juga dapat dipengaruhi oleh lingkungan tempat pengukuran, cuaca, ataupun bisa pada kondisi pengukur itu sendiri.
e Keker yang kurang pas, ini akan mempengaruhi garis-garis yang di buat nantinya dalam melakukan pengukuran. Hal ini juga dapat di sebabkan oleh pengaruh hal-hal diatas
e Tempat yang diperlukan untuk melakukan pengukuran ini haruslah cukup luas minimal untuk membuat garis-garis bantu, sehingga pengukuran kurang efektif dan tidak dapat dilakukan di semua tempat.
e Dan masalah-masalah lainnya

c.       Metode Optis :
e Metode ini memiliki tingkat ketelitian yang lebih besar dari kedua metode di atas, namun demikian metode ini juga memiliki kekurangan.
e Kekurangan yang terjadi lebih banyak pada kerusakan alat yang digunakan, dan kemampuan menggunakannya.
e Kekurangan-kekurangan lain di luar alat seperti kondisi cuaca lapangan, kondisi pengukur,dll.

e Dan kekurangan-kekurangan lain-lainnya.

Pengukuran jarak


Jarak antara 2 titik adalah panjang garis lurus yang menghubungkan kedeua titik tertentu. Dalam ilmu ukur tanah ada 2 macam jarak yaitu jarak miring (perhitungan Volume), dan jarak datar (perhitungan /  pembuatan Peta).

Macam-macam cara pengukuran jarak :
          a.       Cara sederhana : Langsung, Tak langsung.
          b.      Menggungakan alat : Optis, Otomatis.

Pengukuran Jarak Cara Sederhana
Pada metode ini tidak di perlukan perhitungan khusus. Jika Jarak < dari panjang pita ukur, maka cara mengukurnya yaitu :
1.       Pasang patok pada titik-titik yang akan di ukur
2.       Lalu kemudian ukurlah jarak kedua titik tersebut
Tetapi Jika di temukan Jarak > dari panjang pita ukur, maka akan dilakukan beberapa perhitungan, cara yang bisa dilakukan adalah :
Alat                           : Pita ukur, Yalon, Patok
Cara mengukur    :
a.       Pasang patok pada titik yang akan di ukur
b.      Buat garis lurus dengan cara memeasang patok diantara kedua titik tersebut dengan jarak tidak melebihi panjang ita ukur.
c.       Jika di temukan penghalang diantara kedua titik yang akan di ukur ataupun kedua titik yang akan di ukur tidak dapat di capai, maka cara yang dapat dilakukan yaitu :
-        Buat garis bantu AC dan ukur
-        Buat garis CD (tegak lurus garis CA/ membentuk siku-siku) dan ukur
-        Buat garis AE (Tegak lurus garis CA dan sejajar dengan garis CD)
-        Lalu buatlah 2 buah segitiga yang sebangun dan lalu bandingkanlah keduanya menggunakan rumus perbandingan.



Pengukuran jarak menggunakan alat

Alat yang di gunakan dalam pengukuran jarak terbagi menjadi 2 jenis yaitu alat Optis dan alat Otomatis (digital).
Dalam penggunaannya kita perlu mengetahui bagaimana cara-cara yang baik dan benar, alat-alat yang akan di gunakan dalam pengukuran sebelumnya haruslah sudah melalui penyetelan dengan benar.
Penggunaan alat optis, dalam penggunaannya berikut ini adalah gambaran yang akan tampak ketika kita mengeker dengan alat optis

Alat optis ini dibantu dengan alat ukur bernama “Baak ukur”. Hasil pengukuran didapatkan dari hasil pembacaan benang silang yaitu batas atas, batas bawah, dan batas tengah. Rumus penghitungan jarak adalah sebagai berikut :
 

AB = (b.a – b.b) x 100

Dengan :
AB = Jarak yang akan diukur
b.a = Batas atas
b.b = Batas bawah

CULVERT ( Gorong-Gorong )

Culvert is a structure that allows water to flow under a road, railroad, trail, or similar obstruction. Typically embedded so as to be surrounded by soil, a culvert may be made from a pipe, reinforced concrete or other material. A structure that carries water above land is known as an aqueduct.
Culverts may be used to form a bridge-like structure to carry traffic. Culverts come in many sizes and shapes including round, elliptical, flat-bottomed, pear-shaped, and box-like constructions
Culverts have three distinct uses. One is to control and direct drainage of accumulated storm water runoff from crowned roads and side ditches. Another use is to provide stream crossings for all three road types. The third and least recognized use is to allow for natural movement of surface water on wet sites where fill roads would otherwise adversely affect natural flow and alter the hydrology of the area. This section covers the first and third uses. Another section will cover water crossings.
Where possible, install culverts in natural draws on all roads. If this is not convenient or if the culverts would be too far apart, follow the broad-based dip spacing guidelines in Table bellow :


Table 1: Recommended spacing for water turnouts, culverts or broad-based dips on wet soils.
Road Grade
Spacing Between Dips
2
300
3
235
4
200
5
180

Culverts - all other structures.

  • Even though the costs of culverts are less than those of bridges, there are many times more culverts than bridges, and the total investment of public funds for culverts constitutes a substantial share of highway dollars.
  • Culverts are usually designed to operate with the inlet submerged if conditions permit. This allows for a hydraulic advantage by increased discharge capacity. Bridges are usually designed for non-submergence during the design flood event, and often incorporate some freeboard.
  • Culvert maintenance requirements include efforts to assure clear and open conduits, protection against corrosion and abrasion, repair and protection against local and general scour, and structural distress repair. 



Besides that, culverts is also has some type :
     1.  Pipe Arch Single or Multiple
Pipe-arch culverts provide low clearance, openings suitable for large waterways, and are more aesthetic. They may also provide a greater hydraulic advantage to fishes at low flows and require less road fill.
2.    Box Culvert Single or Multiple
Box culverts are used to transmit water during brief runoff periods. Theses are usually used by wildlife because they remain dry most of the year. They can have an artificial floor such as concrete. Box culverts generally provide more room for wildlife passage than large pipe culverts. Box culvertsare usually made up of Reinforced Concrete (RCC)

       3.  Arch Culvert

A pipe arch culvert is a round culvert reshaped to allow a lower profile while maintaining flow characteristics. It is good for installations with shallow cover.

Material Of Culverts

There is some material that used to build Culverts :

ü  concrete (reinforced and non-reinforced)
ü  steel (smooth and corrugted)
ü  corrugated aluminum
ü  vitrified clay
ü  plastic
ü  bituminous fiber
ü  cast iron
ü  wood
ü  stainless steel
Two or more materials may be combined to form composite structures. For example, open-bottom corrugated steel structures are often built on concrete footings. Plastic culvert liners are also inserted into failing concrete or steel structures in order to repair the structure without excavating and closing the road. To prevent the older structure from collapsing, the space between it and the plastic liner is usually filled with grout.

Culvert End Treatments

end structures are attached to end of culvert barrel to reduce erosion, inhibit seepage, retain the fill, and improve hydraulic characteristics.
Possible Choices:
·         Projecting
·         Mitered
·         Flared-end Section
·         Headwalls and Wingwalls


Kesalahan Pengukuran Dalam Ilmu Ukur Tanah



Konsep Pengukuran Dan Kesalahan         

Seorang surveyor (geodetic engineer) melakukan pekerjaan mulai dari mendesain proyek sampai dengan mempresentasikan hasil laporan. Jika ingin mendapatkan nilai hasil pengukuran yang mempunyai tingkat keandalan yang tinggi, maka seorang surveyor harus mengerti tentang konsep pengukuran (pengambilan data) dan kesalahan yang terjadi dalam pengukuran.
Nilai estimasi hasil pengukuran (parameter) diperoleh dari data pengukuran dengan menggunakan model matematika yang menyatakan hubungan antara pengukuran dan hasil pengukuran yang akan ditentukan nilainya. Adapun konsep dalam pengukuran :
  1.  Pengukuran pada umumnya menggunakan alat (instrumentation) yang dioperasikan oleh pengukur (observer) dalam keadaan lingkungan (environment) tertentu.
  2. Setiap pengukuran mengandung kesalahan (errors)
  3. Kesalahan sebenarnya (true error) adalah penyimpangan nilai hasil pengukuran (x) terhadap nilai sebenarnya (true value) ε = x - τ, dimana ε = kesalahan sebenarnya, x = nilai hasil pengukuran dan τ = nilai sebenarnya
  4. Karena nilai sebenarnya (τ ) tidak pernah diketahui maka nilai kesalahan sebenarnya (ε) juga tidak dapat diketahui.
  5. Nilai pengukuran dan kesalahan pengukuran dapat diestimasi v =  xˆ-x, dimana v = estimasi kesalahan (estimasi residu), x = nilai hasil pengukuran dan xˆ = estimasi nilai sebenarnya
Gambar 1. Konsep Pengukuran


Sumber-Sumber Kesalahan

Berdasarkan hal-hal yang menyebabkan terjadinya kesalahan, kesalahan yang terjadi pada pengukuran dapat diklasifikasikan sebagai kesalahan karena alam (natural errors), kesalahan karena alat ( instrumental errors) dan kesalahan karena pengukur (personal errors).
1.     Kesalahan yang bersumber dari pengukur
Kurangnya ketelitian mata dalam pembacaan alat waterpass, yaitu pembacaan benang atas, benang bawah, dan benang tengah. Adanya emosi dari pengukur akibat rasa lapar sehingga tergesa-gesa dalam melakukan pengukuran dan akhirnya terjadi kesalahan mencatat.
2.    Kesalahan yang bersumber dari alat
Ukur yang sering dipakai mempunyai tendensi panjangnya akan berubah, apalagi jika menariknya terlalu kuat. Sehingga panjang pita ukur tidak betul atau tidak memenuhi standar lagi. Patahnya pita ukur akibat terlalu kencangnya menarik pita ukur, sehingga panjang pita ukur bergeser (berkurang)
3.    Kesalahan yang bersumber dari alam.
Adanya angin yang membuat rambu ukur terkena hembusan angin, sehingga tidak dapat berdiri dengan tegak. Angin yang merupakan faktor alam, membuat pita ukur menjadi susah diluruskan, sehingga jarak yang didapatkan menjadi lebih panjang daripada jarak sebenarnya.
Gambar 2. Sumber Kesalahan



Jenis-Jenis Kesalahan
Secara konvensional kesalahan dikategorikan ke dalam tiga jenis yaitu kesalahan besar (gross error), kesalahan sistematik (systematic error) dan kesalahan acak (random/accidental error).
1.    Kesalahan Besar atau Gross Error/Blunder, 
karakteristik pada kesalahan ini yaitu nilai pengukuran menjadi sangat besar/kecil/berbeda bila dibandingkan dengan nilai ukuran yang seharusnya. sumber kesalahannya yaitu karena kesalahan personal (kecerobohan pengukur) yang menyebabkan hasil pengukuran yang tidak homogen. cara penanganannya yaitu harus dideteksi dan dihilangkan dari hasil pengukuran. adapun langkah-langkah yang dilakukan untuk menghindari terjadinya kesalahan besar ini yaitu : Cek secara hati-hati semua objek yang akan diukur; Melakukan pembacaan hasil ukuran secara berulang untuk mengecek kekonsistenan; memverifikasi hasil yang dicatat dengan yang dibaca; Mengulangi seluruh pengukuran secara mandiri untuk mengeek kekonsistenan data; Penggunaan rumus aljabar atau geometrik sederhana untuk mengecek kebenaran hasil ukuran.
2.    Kesalahan Sistematik (Systematic Error),
karakteristik pada kesalahan ini yaitu terjadi berdasarkan sistem tertentu (deterministic system) yang dapat dinyatakan dalam hubungan fungsional (hubungan matematik) tertentu dan mempunyai nilai yang sama untuk setiap pengukuran yang dilakukan dalam kondisi yang sama. Sumber kesalahannya yaitu terjadi karena kesalahan alat sehingga menyebabkan hasil pengukuran menyimpang dari hasil pengukuran yang seharusnya. Cara penanganannya yaitu harus dideteksi dan dikoreksi dari nilai pengukuran. contohnya dengan melakukan kalibrasi alat sebelum pengukuran. kesalahan sistematik dapat dieliminasi dengan melakukan : Kalibrasi peralatan; Menggunakan metoda pengukuran tertentu.
3.    Kesalahan Acak (Random/Accidental Error),
karakteristik pada kesalahan ini yaitu kesalahan yang masih terdapat pada pengukuran setelah blunder dan kesalahan sistematik dihilangkan dan tidak memiliki hubungan fungsional yang dapat dinyatakan dalam model deterministik, tetapi dapat dimodelkan menggunakan model stokastik (berdasarkan teori probabilitas). Sumber kesalahannya yaitu terjadi karena kesalahan personal, alat, dan alam. tidak dapat dihilangkan tetapi dapat diminimalkan dengan melakukan pengukuran berulang (redundant observations) dan melakukan hitung perataan terhadap hasil pengukuran dan kesalahan pengukuran. Salah satu metode perataan adalah metode perataan kuadrat terkecil (Least Square Adjusment). Jika kesalahan sistematik, koreksi dapat dilakukan dengan menggunakan model fungdional dan kalibrasi alat, maka untuk mengeliminir kesalahan acak digunakan model probabilitas.

Kesalahan Yang Bersumber Dari Alam

Alam merupakan salah satu faktor pengukuran yang paling tak terduga, alam dapat sewaktu-waktu berubah secara spontan, tetapi hal ini jarang sekali terjadi pada saat pengukuran berlangsung.
Beberapa contoh sumber kesalahan ukur karena alam antara lain :
1.       Angin
Hembusan angin yang kencang akan mempengaruhi hasil pengukuran, dikarenakan angin yang berhembus ke rambu ukur dapat merubah posisi rambu menjadi tidak tegak lurus. Selain itu, angin akan menyulitkan para pengukur dalam membentangkan pita ukur, pita ukur akan menjadi susah untuk diluruskan sehingga jarak ukur akan menjadi lebih panjang dari yang seharusnya.
2.       Cuaca
Cuaca sering menjadi halangan bagi para pengukur, cuaca yang tak menentu dapat menunda berlangsungnya pengukuran. Misal tiba-tiba terjadi badai, akan sangat sulit untuk bisa melakukan pengukuran.
3.       Bencana alam
Misalkan gunung meletus, angin topan, gempa bumi, banjir, dan bencana-bencana alam lainnya.
4.       Bentuk bumi
Bentuk bumi yang bulat mempunyai efek tersendiri pada ilmu ukur tanah, ini mengakibatkan tanah yang di ukur mempunyai batas-batas tertentu sehingga ukuran tanah yang akan di ukur tidak bisa terlalu panjang ataupun terlalu luas.
5.       Cahaya Matahari

Cahaya matahari dapat menjadi sumber kesalahan pada proses pengukuran tanah, khususnya jika pengukuran dilakukan secara optical atau menggunakan alat optik seperti teropong dan lain sebagainya. Cahaya matahari sewaktu-waktu dapa membias melalui lensa optik sehingga hasil pengukuran mungkin akan kurang sesuai seperti apa yang diharapkan, bisa saja lebih ataupun kurang.

FORKLIFT

Sometimes called a forklift truck, the forklift is a powerful industrial truck that is used to lift and transport material by steel forks that are inserted under the load. Forklifts are commonly used to move loads and equipment that is stored on pallets. The forklift was developed in 1920, and has since become a valuable piece of equipment in many manufacturing and warehousing operations.

Types of Forklifts
The most common type of design with forklifts is the counter balance. Other types of designs include the reach truck and side loader, both of which are used in environments where the space is at a minimum.

Control and capability
Forklifts are available in many types and different load capacities. In the average warehouse setting,most forklifts have load capacities of around five tons. Along with the control to raise and lower the forks, you can also tilt the mast to compensate for the tendency of the load to angle the blades towards the ground and risk slipping it off the forks. The tilt will also provide a limited ability to operate on ground that isn’t level.There are some variations that allow you to move the forks and backrest laterally, which allows easier placement of a load. In addition to this, there are some machines that offer hydraulic control to move the forks together or further apart, which removes the need for you to get out of the cab to manually adjust for a different size load.
Another forklift variation that is sometimes used in manufacturing facilities, will utilize forklifts with a clamp attachment that you can open and close around a load, instead of having to use forks. Products such as boxes, cartons, etc., can be moved with the clamp attachment.

Safety
Forklifts are rated for loads at a specified maximum weight and a specified forward type center of gravity. All of this information is located on a nameplate that is provided by the manufacturer and the loads cannot exceed these specifications. One of the most important aspects of operating a forklift is the rear wheel steering. Even though this helps to increase maneuverability in tight cornering situations, it differs from the traditional experience of a driver with other wheeled vehicles as there is no caster action. Another critical aspect of the forklift is the instability. Both the forklift and the load must be considered a unit, with a varying center of gravity with every movement of the load.You must never negotiate a turn with a forklift at full speed with a raised load, as this can easily tip the forklift over.

FRONT LOADER

Also known as a front end loader, bucket loader, scoop loader, or shovel, the front loader is a type of tractor that is normally wheeled and uses a wide square tilting bucket on the end of movable arms to lift and move material around.The loader assembly may be a removable attachment or permanently mounted on the vehicle. Often times, the bucket can be replaced with other devices or tools, such as forks or a hydraulically operated bucket.
Larger style front loaders, such as the Caterpillar 950G or the Volvo L120E, normally have only a front bucket and are known as front loaders, where the small front loaders are often times equipped with a small backhoe as well and called backhoe loaders or loader backhoes.Loaders are primarily used for loading materials into trucks, laying pipe, clearing rubble, and also digging. Loaders aren’t the most efficient machines for digging, as they can’t dig very deep below the level of their wheels, like the backhoe can.
The deep bucket on the front loader can normally store around 3 – 6 cubic meters of dirt, as the bucket capacity of the loader is much bigger than the bucket capacity of a backhoe loader. Loaders aren’t classified as excavating machinery, as their primary purpose is other than moving dirt.In construction areas, mainly when fixing roads in the middle of the city, front loaders are used to transport building materials such as pipe, bricks, metal bars, and digging tools. Front loaders are also very useful for snow removal as well, as you can use their bucket or as a snow plow. They can clear snow from the streets and highways, even parking lots.They will sometimes load the snow into dump trucks which will then haul it away.
Unlike the bulldozer, most loaders are wheeled and not tracked. The wheels will provide better mobility and speed and won’t damage paved roads near as much as tracks, although this will come at the cost of reduced traction. Unlike backhoes or tractors fitted with a steel bucket, large loaders don’t use automotive steering mechanisms, as they instead steer by a hydraulically actuated pivot point set exactly between the front and rear axles.This is known as articulated steering and will allow the front axle to be solid, therefore allowing it to carry a heavier weight.
Articulated steering will also give a reduced turn in radius for a given wheelbase. With the
front wheels and attachment rotating on the same axis, the operator is able to steer his load in an arc after positioning the machine, which can come in quite handy. The problem is that when the machine is twisted to one side and a heavy load is lifted high in the air, it has a bigger risk of turning over.

Contact Us

Phone :

+20 010 2517 8918

Address :

3rd Avenue, Upper East Side,
San Francisco

Email :

email_support@youradress.com